Phnom Penh sampai Siem Reap

Sorya Bus di tempat istirahat

Sorya Bus Transport ini sudah terisi penuh oleh para penumpang. Selain penduduk lokal, hampir setengahnya adalah turis asing. Tujuan bus ini adalah Siem Reap, dengan beberapa pemberhentian di kota-kota kecil. Saya tidak mengira tiketnya akan semurah 5,5 USD. Padahal menurut riset yang saya lakukan, harga tiket bus nya sekitar 7 hingga 8 USD. Bus nya memang tidak sebagus sewaktu berangkat dari Saigon ke Phnom Penh. Bus kali ini lebih merakyat, persis seperti bus jepang yang suka berkeliaran di Jakarta. Hanya saja, bus yang saya tumpangi ini berAC, jadi cukup bisa menangkap udara di Kamboja yang saat itu sangat panas menyengat.

National highway

Perjalanan waktu itu kalau tidak salah melintasi National Highway 5. Uh jangan harap kamu akan melewati jalan bersih mulus layaknya jalan Tol Jagorawi. Kanan kiri jalan adalah ladang kering dan tandus, yang kalau musim hujan akan berubah jadi rawa. Sementara jalanannya sendiri tak berbeda jauh dengan ladang tandus itu. Saya baca beberapa tips aman jalan-jalan di Kamboja, akan lebih baik memang tidak naik bus malam, karena pada umumnya, banyak jalan yang tak mempunyai lampu jalan dan mengingat jalanannya yang tidak rata serta akan jadi rawa kalau hujan, maka… sebaiknya ya ambil bus siang.

Tak perlu membayangkan akan seberat apa perjalannya. Tidak seburuk yang kamu pikirkan kok. Di Indonesia pasti lebih banyak jalan-jalan yang lebih kacau.Selain rawa-rawa kering, pemandangan rumah-rumah lokal yang mirip seperti rumah panggung juga akan bisa dinikmati. Warga lokal di pedesaan nampaknya lebih menyukai tinggal di atas rawa, dengan tumbuhan eceng gondok dan teratai memenuhi halaman mereka, sementara itu hewan-hewan seperti bebek maupun kerbau turut berperan serta menghiasi pekarangan rumah mereka. Sesuatu yang unik.

on the way to siem reap

Perjalanan memakan waktu 6 hingga 7 jam. Di tengah perjalanan bus sempat berhenti dulu untuk istirahat makan. Ketika berhenti di suatu kedai makan, saya sempat melongok barang dagangannya. Menu makanannya tidak ada yang menarik. Kemudian mata saya terhenti pada snack yang dijual. Ternyata ada recheese nabati dan produk-produk makanan ringan asal Indonesia. huwooo.. hits banget kan?

Sementara itu, selain cuaca yang berganti dari terik, ke hujan, ke terik lagi, warna langit pun ikut berubah. Mulai dari langit biru, awan gelap, hingga sunset yang ciamik mengisi perjalanan lintas Kamboja. Sekitar jam 6 sore, bus belum juga sampai. Perempuan di samping saya terus gelisah. Kemudian menanyakan ke saya, jam berapa bus akan sampai. “Oh sorry I don’t know, this is my first time here.” jelas saya.
“ok no problem, it’s my first also”.
“are you from Philippine?” tebak saya, logat bahasa Inggrisnya sangat terdengar Pinoy.
“yes I am. where are you from?” tanyanya balik.
“Indonesia. I’ve been to Manila 4 days ago”
“really. what are you doing?”
“travelling only. and that was my second time been to Manila. The first is last february and I went to Cebu and Bohol. where are you from?”
“I am from Manila, but my hometown is in Batanes. you know?”
“yah I know. I want to go there, much! that’s in the north luzon right?”
“yes. It is in the most northern part of Luzon. far. hehe”
“unfortunately, the flight is expensive, right? there’s no cebu pacific air go there”. ungkap saya sedih
“yaah.. that very far. but you could go by the boat. a cargo. it takes about two days.”
“haha no way. anyway where do you come from? Phnom Penh? and where will you go?”
“I have flown from Manila to Ho Chi Minh, and then going here (siem reap) by Phnom Penh. now I am heading to Manila again by fly from Siemreap” jelasnya
“oh I see.. what time’s your flight?”
“it is 8 o’clock”
“seriuously???” tanya saya shock. saat itu sudah jam 6 hampir menuju 7. tapi belum sampai di Siem reap. apakabar?
“yeah.. and I need to hurry up. but I have friend that will pick me up at the bus station”
“good then, good luck”

along the way

Sekitar setengah jam kemudian, memasuki pukul 19 lewat, akhirnya bus tiba di Siem Reap. Kami tiba di pemberhentian bus khusus Sorya Transport. Kondisi saat itu gelap, mendung, dan sedang gerimis. Saya buta arah. Kondisi kota Siem Reap tidak seperti yang saya bayangkan. Kenyataan yang saya hadapi adalah seperti kampung-kampung di pedalaman Jawa. Jalanan aspalnya sudah bolong-bolong dan lebih didominasi oleh tanah dan debu. Lampu jalan jarang-jarang, jadi kondisi makin gelap. Supir tuktuk dan ojek mengerubungi penumpang bus. Saat keluar pool bus itu lah saya berpisah dengan semua penghuni bus. Saya mengambil jalan sendiri dengan mencoba peruntungan jalan kaki ke Old Market, pusat kehidupan dari kota Siem Reap.

Saya melipir untuk bertanya.
“Sir, sorry, do you know Psar Chaa?” saya mencoba menggunakan nama setempat untuk Old Market. Nama Psar Chaa saya dapatkan dari peta Lonely Planet. Namun warga lokal itu malah geleng-geleng. Diam seribu bahasa. Saya mencoba untuk mengulang. “PSAR CHAA?”. Dia geleng lagi. Saya pasrah.. waktu mau meninggalkan bapak-bapak itu, tiba2 dia mengeluarkan kata-kata. “Old Market?”. “YEES!!”. Dia tidak bilang apa-apa kecuali menunjuk lurus ke depan. Ini sebenarnya agak fail ya, mau coba ‘down to earth’ dengan menggunakan bahasa lokal, malah yang ditanya lebih ngerti nama bahasa Inggrisnya. Jderrr!

Melihat jalan di depan yang gelap, sepi, dan berdebu, nyali saya ciut. Kebetulan ada tukang ojek yang nyamperin. Setelah tawar menawar, akhirnya kami sepakat dengan harga 1,5 USD. Tujuan saya adalah The Garden Village. Sebuah hostel yang terkenal akan gaya backpackernya. Kenapa terkenal? karena hostel ini cukup gokil. Hostel ini memiliki dorm 1 USD alias 9500 rupiah (kurs saat itu). Saya cukup penasaran, kayak apa sih kok bisa 1 USD per malam.

Tak sampai 15 menit, saya sudah sampai di Garden Village. Agak kasian sih sama tukang ojeknya, abis jaraknya jauh, tapi kesel juga, abis dia bilang tau tempatnya tapi ternyata nyasar. Intinya, nyasarnya ini cukup menjelaskan bagaimana lokasi The Garden Village yang masuk-masuk ke dalam jalan.

Dorm 1 USD at Garden Village

Saya di sambut oleh para pelayan hostel The Garden Village. Kemudian saya diperlihatkan keadaan masing-masing dormitory yang mereka sediakan. Pertama saya penasaran dengan dorm 1 USD nya. Saya digiring masuk ke dalam hostel. Ternyata letak dorm 1 USD ini berada di samping koridor jalan. Bisa dibilang semi outdoor. Ya, maksudnya tidak berada di dalam kamar tapi masih di dalam ruang bangunan. Terdapat satu bale besar yang digunakan sebagai tempat tidur untuk 3 orang. Sebagai pemisah, dipasang kelambu dengan masing-masing kasur. A bit creepy sih. Selain kelas super backpacker, ada lagi dormitory yang berada di dalam ruangan, dengan AC dan air panas. Harganya cuma 4 USD. Akhirnya saya pilih yang ini dan berencana untuk menghabiskan 2 malam di Siem Reap.

Bisa dibilang perjalanan di Kamboja ini adalah klimaks dari seluruh rangkaian perjalanan saya. Sehabis Siem Reap, tinggal dua hingga tiga kota lagi yang akan saya kunjungi. Sejauh ini, saya merasa sangat betah jalan-jalan di Kamboja dan sangat menantikan petualangan di Angkor Wat keesokan hari nya. Masalah perjalanan darat yang lumayan jauh, saya rasa itu bisa dijadikan sebagai tur singkat untuk lebih mengenal negara ini. Selain itu, semuanya berjalan dengan sangat menyenangkan.

Untuk petualangan Angkor Wat, tunggu tulisan selanjutnya ya :)

The Garden Village

4 responses to “Phnom Penh sampai Siem Reap

  1. ohmehgad dat hostel street, tinggal lurus terus naek tangga curam 4 tingkat belok kanan mentok, mantan room gue… kangenn :(((

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s