Getting Around Beijing

 

Apa yang terbersit di pikiran kamu kalau mendengar kata Beijing? Great wall? Forbidden city? Tian’anmen Square? Segala objek wisata di dalamnya memang sangat menggiurkan. Dijamin kalau merencanakan untuk jalan jalan di Beijing, kamu ga akan mati gaya. Saya pun kaget ketika membaca Lonely Planet. Di awal paragraf tentang Beijing, tertulis bahwa “Beijing is unforgively huge”. Besar kota nya saja seluas negara Belgia. Kebayang hal apa saja yang akan kamu explor?

Terbang dengan budget airline harus siap untuk diturunin di bandara tengah malam atau pagi buta. Ini kesekian kalinya saya terdampar di bandara di tengah malam. Keuntungannya adalah, kita bisa menikmati pemandangan malam suatu kota. Malam itu, pemandangan kota Beijing sangat spektakuler. Dari lampu-lampu jalan kita bisa mengetahui tata letak sebuah kota. Bermalam di Beijing Capitol Airport merupakan petualangan pertama saya di negara tirai bambu tersebut.

Beijing

Beijing

Beijing Capitol Airport terbagi atas tiga terminal, dengan dua terminal baru nya yang tak kalah megahnya dengan Changi International Airport. Kalau kamu searching “Beijing Capitol Airport” di Google Image, kamu akan mendapatkan gambar desain bandara yang super keren. Di bandara ini dilengkapi dengan jaringan internet wireless gratis. Kamu bisa mencari mesin informasi untuk mendapatkan identitas wifi. Pada mesin tersebut, kamu bisa menggunakan paspor untuk mendapatkan ID dan password internet login. Satu hal yang berbeda ketika buka internet di Cina, kamu tidak bisa membuka situs jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter, bahkan saya juga tidak bisa mengakses jejaring Plurk. Namun, instan messenger masih bisa menyambung sehingga kamu bisa berkirim pesan dengan teman di Indonesia.

Kereta ekspres pertama dari terminal dua Beijing Capitol Airport adalah pukul 6.25. Tujuan akhir kereta ekspres ini adalah stasiun Dongzhimen, dengan sekali pemberhentian di Beijing Subway Line 10. Tarif yang dikenakan untuk kereta ekspres bandara ini 25 Yuan. Jarak tempuhnya sekitar 20 hingga 30 menit. Ini adalah moda transportasi paling efektif yang saya tahu. Entah lah tarif taksi dari bandara ke pusat kota berapa, pastinya akan sangat mahal, mengingat jaraknya yang cukup jauh. Jakarta mesti punya yang seperti ini.

Tidak seperti kota Kuala Lumpur yang dipenuhi dengan berbagai macam moda transportasi, Beijing menerapkan konsep subway pada kota nya yang sangat besar ini. Di sisi lain, terdapat juga bus dan bus listrik yang berkeliaran di berbagai rute berbeda, dan juga bisa jadi alternatif lain karena murah, namun menurut saya kurang efektif. Beijing Subway mempunyai 13 jalur yang saling terintegrasi. Jika kamu dari bandara dan turun di Dongzhimen, kamu terhubung dengan Line 2 yang terhubung lebih dari lima jalur. Tenang, rute Line 2 adalah mellingkar, jadi jika kamu tersesat maka kamu akan kembali ke titik yang sama. Satu hal yang paling saya senangi dari Beijing Subway ini adalah tarif nya yang sangat murah, yaitu 2 Yuan saja ke semua jalur tanpa peduli berapa kali transit. Jika kamu akan menghabiskan waktu lebih dari tiga hari di Beijing,

Beijing Card

Beijing Card

Tips: Saya sarankan kamu membeli Beijing card. Itu sangat berguna buat kamu yang tidak mau repot merogoh uang recehan dan repot mengantre di mesin tiket subway. Kartu tersebut tidak hanya berguna untuk membayar subway, tetapi juga berbagai moda transportasi lainnya. Beijing Card bisa dibeli di beberapa stasiun.

Ada banyak hal yang bisa saya ceritakan mengenai Beijing Subway. Kamu mungkin cemas mengenai bahasa dan tulisan nya ketika traveling di Dataran Cina. Nyatanya, banyak yang bilang juga, Dataran Cina merupakan salah satu negara tersulit untuk traveling, sama halnya juga negara arab. Beijing merupakan ibu kota negara dan merupakan kota besar, jadi tulisan dan bahasa inggris masih digunakan di berbagai  petunjuk jalan maupun informasi di tempat umum. Untuk membeli tiket di mesin nya pun, tersedia menu berbahasa inggris, dan pada subway nya ada audio petunjuk pemberhentian selanjutnya. Saya sarankan kamu membawa masker atau semacamnya jika kamu sangat sensitif dengan bau. Saya mengalami sejenis ‘shock’ dengan bau orang lokalnya. Ketika masuk di subway pertama kali, ada sejenis bau yang sulit digambarkan menyerang indera penciuman saya. Duh… apalagi kalau kamu naik subway pada jam berangkat kerja. Huek.. penuh, sesak, dan bau…

Intensitas subway sih bukan masalah, tiga menit sekali subway datang. Mungkin pemerintah kota nya berpikir keras dalam pengadaan gerbong-gerbongnya ya, mengingat penduduk Cina yang super buanyak. Berhubung saya tinggal nya di dua stasiun terakhir di Line 1, jadi setiap berangkat ke tengah kota, maka saya dapat duduk. Sebaliknya ketika saya pulang, saya harus menahan capek dan berdiri sekitar sejam. Nahan diri sih saya kuat, lagi-lagi, saya tidak kuat menahan bau.. duh.

Kalau kamu kaget dengan tarif subway nya yang murah, kamu akan lebih kaget lagi dengan tarif bus dalam kota nya. Tarif nya hanya 50 sen atau setengah Yuan. Tentu murah karena saya menggunakan Beijing card, kalau tarif normalnya kayaknya sih 1 Yuan jauh/dekat. Mungkin karena jarang menggunakan bus, jadi menurut saya bus nya cukup nyaman karena tidak terlalu ramai. Selain itu, terdapat banyak bus tingkat, jadi sight seeing kota nya lebih terasa seru.

Forbidden City

Forbidden City

Saya pernah, sok sok an naik bus secara random.  Ceritanya saya sehabis jalan-jalan ke Temple of Heaven. Waktu itu berpisah dengan sepasang suami istri dari US yang tajir mampus, ceritanya dia mau nebengin saya, hanya saya tolak karena bilang mau naik subway. Sesampainya di pintu keluar Temple of Heaven, saya tidak menemukan petunjuk arah subway. Saya males banget jalan muterin kompleks Temple of Heaven yang katanya lebih luas dari Forbidden City. Secara impulsif, saya langsung naik bus tingkat yang bahkan saya tidak tahu nomor nya. Jurusannya? Semuanya dalam bahasa Cina! Pemberhentiannya juga tidak familiar. Familiar disini berarti namanya sama dengan nama stasiun subway, nyatanya jalur bus ini tidak terhubung dengan jalur subway manapun. Akhirnya saya dibawa hingga ke daerah bisnis dan pemerintahan yang saya pun tidak tahu apa namanya. Kemudian saya turun dari bus dan menyebrang lalu menaiki bus yang sama. Loh kok saya malah dibawa ke pemberhentian terakhir? Saya salah apa??? Untungnya, terdapat mukjizat. Mata saya tidak sengaja membaca  petunjuk arah “Beijing South Raiway Station” – 3 KM. Saya rela jalan jauh asalkan saya tidak nyasar dan kebingungan kayak tadi.

Terdamparnya saya di Beijing South Railway Station menambahkan pengetahuan saya mengenai kota ini. Saya tiba di sebuah stasiun kereta api yang lebih mirip seperti mall. Super modern dan berjejer kedai fast food bermerek (kata bermerek macam toko pakaian aja). Saya tengok peta subway (satu-satunya modal peta yang saya punya di Beijing), saya berada di Line 4, saya harus transit di Line 10 untuk kemudian transit di Line 8. Oke, hidup saya mulai dioper-oper oleh Beijing Subway, tetapi setidaknya subway bukan lah pemberi harapan palsu seperti bus dalam kota nya.

Taksi di Beijing juga tergolong murah. Upss.. atau karena dibayarin jadi saya bilang murah?. Untuk perbandingan harga, saya dan kedua teman US naik taksi bermeter dari Forbidden City dan berakhir di Temple of Heaven dengan tarif 17 Yuan. Ya sekitar 25.000rupiah untuk bertiga. Jaraknya lumayan loh! Tapi harus diingat, taxi yang menggunakan argo ya, karena dengan taksi tak berargo dan dengan jarak yang sama, kita akan dikenakan tarif 100 Yuan untuk bertiga!!!

Note: Kamu juga bisa mendownload aplikasi Beijing Subway map di ponsel kamu, download di http://www.explorebj.com/subway/

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s